Permasalahan Tugas Kuliah, Penyebab, dan Cara Saya Mengatasinya
Permasalahan Tugas Kuliah, Penyebab, dan Cara Saya Mengatasinya
Sebagai seorang mahasiswa, tugas kuliah merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Namun, saya pernah mengalami masa di mana tugas kuliah justru menjadi sumber stres terbesar dalam kehidupan saya. Salah satu permasalahan yang sangat sering saya hadapi adalah sulitnya mengelola tugas dengan baik sehingga akhirnya banyak tugas yang menumpuk dan harus dikerjakan dalam waktu yang sangat terbatas. Kondisi ini membuat saya merasa kewalahan dan tidak bisa fokus menjalani aktivitas lain secara maksimal.
Masalah ini sebenarnya sudah muncul sejak semester awal, tetapi semakin terasa berat ketika saya mulai memasuki semester berikutnya yang beban tugasnya lebih banyak dan lebih kompleks. Hampir setiap pertemuan dosen memberikan tugas, baik berupa makalah, rangkuman jurnal, presentasi, hingga proyek kelompok yang membutuhkan kerja sama intensif. Pada awalnya, saya menganggap semua itu masih bisa saya kerjakan secara bertahap. Namun karena banyaknya aktivitas yang saya lakukan di luar kuliah seperti organisasi dan kegiatan sosial, saya sering kali menunda pekerjaan dengan alasan ingin beristirahat dulu.
Kebiasaan menunda inilah yang menjadi penyebab utama permasalahan saya. Awalnya saya hanya berkata dalam hati, “Nanti saja, masih ada waktu.” Tapi ternyata waktu berlalu sangat cepat. Ketika saya baru mulai mengerjakan tugas, tiba-tiba deadline sudah berada di depan mata. Saya pun terpaksa begadang dan menyelesaikannya dalam keadaan terburu-buru. Hasilnya tentu tidak maksimal, bahkan beberapa kali saya merasa tugas yang saya kumpulkan tidak mencerminkan kemampuan terbaik saya. Selain membuat saya stres, begadang juga berdampak pada kesehatan karena keesokan harinya saya merasa lemas dan sulit berkonsentrasi saat mengikuti perkuliahan.
Selain kebiasaan menunda, penyebab lainnya adalah kurangnya manajemen waktu dalam kehidupan saya sehari-hari. Saya tidak pernah membuat jadwal yang jelas mengenai kapan saya harus mengerjakan tugas, kapan saya harus belajar, kapan organisasi, dan kapan waktu istirahat. Semua kegiatan saya jalani secara spontan tanpa perencanaan. Padahal, semakin tinggi tingkat pendidikan yang saya jalani, semakin banyak pula tanggung jawab yang harus saya selesaikan dengan baik. Karena tidak ada perencanaan yang teratur, saya sering bingung tugas mana yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Akhirnya, saya mengerjakan tugas secara acak dan tidak terarah.
Ada juga faktor minimnya pemahaman mengenai tugas itu sendiri. Ketika dosen memberikan instruksi tugas, terkadang saya kurang memperhatikan detail penjelasannya. Akibatnya, begitu saya ingin mulai mengerjakan tugas, saya kebingungan harus mulai dari mana dan bagaimana formatnya. Bukannya langsung mencari tahu, saya malah menunda pekerjaan itu karena merasa tidak yakin. Itulah mengapa tugas sering menumpuk hingga akhirnya membuat saya semakin tertekan.
Melihat masalah ini terjadi berulang kali, saya mulai menyadari bahwa saya harus lebih bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Untuk itu, saya mencoba memperbaiki kebiasaan buruk tersebut dengan beberapa cara yang menurut saya cukup efektif.
Cara pertama, saya mulai membuat jadwal harian dan daftar prioritas. Setiap kali mendapatkan tugas, saya langsung mencatatnya di buku khusus atau aplikasi catatan di ponsel. Saya menyusun daftar tugas berdasarkan tenggat waktu dan tingkat kesulitannya. Dengan begitu, pikiran saya tidak lagi dipenuhi rasa khawatir lupa tugas. Saya juga menargetkan untuk menyelesaikan sebagian tugas setiap hari agar tidak menumpuk di akhir.
Cara kedua, saya berusaha memahami materi dan instruksi tugas sejak awal. Jika ada hal yang belum saya mengerti, saya langsung bertanya kepada teman, bertanya kepada dosen di luar jam kuliah, atau mencari sumber referensi dari internet. Dengan memahami tugas sejak awal, saya bisa mulai mengerjakannya lebih cepat dan tidak lagi menunda hanya karena merasa bingung.
Cara ketiga, saya mulai membatasi penggunaan media sosial dan menghentikan kebiasaan bermain ponsel saat sedang mengerjakan tugas. Saya menyadari bahwa notifikasi dan kesenangan dari media sosial sering kali membuat saya lupa waktu. Maka dari itu, saat mengerjakan tugas saya mengaktifkan mode jangan ganggu atau meletakkan ponsel jauh dari jangkauan. Selain itu, saya menciptakan suasana belajar yang tenang agar fokus tetap terjaga.
Setelah menerapkan beberapa cara tersebut, saya merasakan perubahan yang cukup besar dalam cara saya mengerjakan tugas. Waktu belajar saya menjadi lebih terorganisir, tugas bisa selesai lebih cepat, dan saya tidak lagi terlalu sering merasa panik ketika menghadapi banyak deadline. Saya juga merasa lebih percaya diri karena kualitas tugas yang saya kumpulkan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa mengerjakan tugas bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur waktu. Permasalahan mengenai tugas ternyata dapat memberikan pelajaran berharga jika saya mau mengevaluasi diri dan memperbaikinya. Saya berharap kebiasaan baik ini bisa terus saya terapkan hingga waktu saya menyelesaikan pendidikan dan memasuki dunia kerja nanti.
Komentar
Posting Komentar